Dari Persimpangan Jalan, Menyalakan Cahaya Kemanusiaan: Ortom Muhi Galang Donasi untuk Flores

Kepedulian tidak selalu lahir dari tempat yang megah. Terkadang, ia tumbuh di tengah hiruk-pikuk persimpangan jalan, di antara lampu merah yang menyala dan kendaraan yang berlalu. Di sanalah tangan-tangan muda SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar hadir membawa pesan kemanusiaan.

Pada Jumat, 28 Agustus 2026, berbagai organisasi otonom (Ortom) di lingkungan SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar bergerak bersama dalam kegiatan Galang Donasi untuk korban gempa Flores. Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian keluarga besar Muhi terhadap saudara-saudara yang sedang menghadapi musibah.

Dengan semangat “dari kita, untuk mereka”, para siswa turun langsung ke sejumlah titik strategis di wilayah Karanganyar. Mereka mengetuk pintu kepedulian masyarakat, mengajak pengguna jalan untuk menyisihkan sebagian rezekinya sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Gerakan tersebut terbagi di berbagai titik. MPK bergerak di Bangjo Lalung, sementara PMR menggalang donasi di Bangjo Bejen. Di sisi lain, Sahabat Lazismu hadir di Bangjo Gerdu, dan Hizbul Wathan mengambil bagian di Bangjo Kongan.

Semangat kepedulian juga mengalir dari Tapak Suci yang melaksanakan penggalangan donasi di Bangjo Beji. Sementara itu, IPM bersama Pattimura menyapa masyarakat di Alun-Alun Karanganyar dan wilayah Tasikmadu.

Beragam atribut organisasi yang mereka kenakan menjadi identitas, tetapi tujuan yang dibawa tetap satu. Tidak ada sekat antara MPK, PMR, Sahabat Lazismu, Hizbul Wathan, Tapak Suci, IPM, maupun Pattimura. Semuanya melebur dalam satu barisan: barisan kemanusiaan.

Di bawah terik matahari dan di tengah padatnya lalu lintas, para siswa dengan penuh kesungguhan menyampaikan ajakan kepada masyarakat. Setiap donasi yang terkumpul, berapa pun nilainya, menjadi bagian dari rantai kebaikan yang diharapkan mampu membantu meringankan beban saudara-saudara di Flores.

Lampu merah yang menjadi titik penggalangan seolah menjadi metafora perjalanan kegiatan ini. Ketika kendaraan berhenti, kesempatan untuk berbagi pun terbuka. Beberapa detik waktu yang dimiliki pengguna jalan dapat berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti ketika diwujudkan dalam kepedulian.

Bagi para siswa, kegiatan ini bukan sekadar mengumpulkan donasi. Mereka sedang belajar tentang empati, keikhlasan, keberanian berinteraksi dengan masyarakat, serta tanggung jawab sosial. Sebuah pembelajaran yang tidak tertulis di papan tulis, tetapi dapat dirasakan langsung melalui pengalaman.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh dari aksi nyata. Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.

Gerakan galang donasi ini menunjukkan bahwa usia muda bukan alasan untuk menunggu menjadi besar sebelum berbuat sesuatu. Dengan apa yang dimiliki, generasi muda dapat mengambil bagian dalam menghadirkan kebaikan.

Dari Lalung hingga Bejen, dari Gerdu hingga Kongan, dari Beji hingga Alun-Alun Karanganyar dan Tasikmadu, langkah para siswa Muhi menyebarkan satu pesan yang sama: musibah di satu tempat adalah panggilan kemanusiaan bagi kita semua.

Karena pada akhirnya, jarak geografis boleh memisahkan Karanganyar dan Flores, tetapi kepedulian mampu menjadi jembatan yang menghubungkan keduanya.

Hari itu, lampu-lampu merah di persimpangan bukan hanya menjadi tanda untuk berhenti. Ia menjadi ruang kecil tempat kebaikan bergerak, tangan-tangan terulur, dan harapan untuk Flores dinyalakan